Tak ada beda

Dalam hening; sepi berbisik, rindu mengusik.
Bahkan, kopi yang sedari tadi tersaji tak mampu membuatnya pergi.
Aku, terbelenggu diantara pagi dan petang.

Advertisements

Masihkah (?)

Diantara gelap gulita
Malam datang menghardik sesiapa
Kepada—Nya aku bertekuk
Mengharap ampun atas dosa yang tak bisa lagi dipeluk

Membengkak
Menggunung

Hati berteriak
Air mata menyeruak

Kepada pemilik semesta
Masihkah ada maaf untuk hamba (?)

Ode untuk sobat

Duka bertamu
Kau tergetak
Tak perlu kau biarkan air matamu beranak pinak; teman
Sedih secukupnya, bahagia seperlunya
Rapalkan alfatihah
Agar hatimu semakin tabah; ikhlas
Hingga air matamu minder untuk kembali berputar: mendera kedua bola matamu

Kau

Kau sudah terlalu jauh, sedang aku tak mungkin lagi merengkuh. Entah dengan cara apa, cara yang bagaimana, doa yang seperti apa agar tuhan kembali meruntuhkan keyakinanmu melupakanku. Teruntuk kau; gadis berkaca mata yang kabarnya kini entah; maafkanlah

Arus balik

Setelah memanen, kini tiba saatnya menanam kembali bibit-bibit diladang yang tandus; yang haus akan doa dari orang terkasih. Yang bila saatnya musim panen tiba, akan kita nikmati bersama keluarga tercinta.

Pantaskah

Diatas sajadah
kembali aku berserah
Pasrah
sebab hati dirundung gelisah

Diatas sajadah
airmata mengucur deras
bermuara di laut penyesalan

risau , bimbang tak menentu

Pantaskah aku mendapat maaf-Mu
Pantaskah aku berada di surga-Mu
Pantaskah aku selalu berada di jalan-Mu

Dosaku sudah banyak
berkarat
melekat
Hingga tak dapat terlihat

Ya robb
Aku hanya seorang hamba
Yang hidup didunia yang fana
dunia yang penuh dengan tanda tanya
dan dunia yang penuh dengan dosa

Duhai sang maha pemaaf
maafkan hamba dari segala khilaf
maafkan hamba dari segala dosa
Dosa yang hamba sengaja
Atau dosa yang hamba tidak sengaja

Duhai sang pemilik rindu
rindukan aku di setiap waktu-Mu
agar aku bisa selalu mengingat-Mu
Agar aku bisa selalu berada di dekatmu
Dan masuk kedalam surga yang Engkau ridhoi

Ya robb
Di atas sajadah
Raga yang remuk
Pemilik hati yang tak berbentuk
Izinkanlah untuk kembali bersujud di hadap-Mu

Ya allah
Izinkanlah

Manusiawi

tukang selfi, cekrek satu, cekrek dua;pala miring, menopang dagu,senyum dikit:ulangi cekrek lagi, lagi dan lagi. berharap dipuja sana sini. Halah, tai tidak pernah sesuai dengan ekspetasi. Ulagi lagi. Balada tukang selfi yang berlindung dibalik hak asasi. ini sajak tentang diri sendiri: Semoga dapat dinikmati meski dalam hati ” Hallah tai, maksudnya apaan si ” maaf, tukang selfi suudzon lagi, harap dimaklumi

Ruang

Saat lampu yang temaram perlahan menjadi hitam. aku yang masih memendam, masih berusaha untuk memejam dan merajam segala khayal tentangmu; yang kelak memperpanjang usia kesepianku jua. Disebuah ruang yang ku beri nama; ruang tunggu.