Dimana aku

Ada sepi, ada sunyi, tapi aku tak pernah sampai padanya
Ada riuh, ada gemuruh. tapi, pinjak kakiku tak berada disitu
Dimana kah kini aku ? Hampa, kosong, semua terlihat begitu jelas. Gontai langkahku, terombang ambing hidupku
Ku cari hening
Hanya terdengar bising caci maki, puja dan puji yang terlontar dari rongga mulut manusia;

Riuh
Saling menyalahkan, saling menjatuhkan
Saling menghujat, saling mengfitnah seolah sudah menjadi trah; manusia
Hingga dengan mudahnya ia menganggap itu benar, itu salah. Kamu masuk surga, kamu masuk neraka. Tapi mereka lupa, bahwa hakim dari segala hukum adalah tuhan.

Anjing !
Bising; dimana hening, dimana sepi ?
Aku ingin sedikit menepi, berinstropeksi
Sebelum kembali melanjutkan ke titik selanjutnya
Dan menerima panggilan dari-Nya

Bosan aku disini
Dengan manusia yang tak lagi manusiawi
Dengan manusia yang ingin menang sendiri
Dengan manusia yang menjadi hakim bagi kebenaran yang bersifat non absolut

Dimana kedamaian ?

Ku cari hening
Namun, aku tak kunjung berjumpa
Ku berlari menuju sepi
Namun ia, malah berlari meninggalkan aku disini: sendiri

Advertisements

Debu

Aku bertanya, siapa kamu
Kamu bertanya siapa aku
Dengan nada lantang kita berujar; kita hanya sebutiran debu; di beri sedikit ruh, untuk sebuah kematian.

Pengecut !

Saat cinta mulai bersemi
Saat ku yakini kaulah ibu kadung dari anak anak rinduku
Ribuan camar yang berterbangan
Mengkrumi membentangkan sayapnya, menghalangi, membuat pandangaku kabur ia berbisik pelan ” nak menjauhlah, badai topan segera menghampirimu”

Berbekal kesal, berbekal sesal, berbekal rasa yang mengganjal. Ku ucap selamat tinggal pada cinta yang keparat. Aku melangkah tanpa arah yang akurat

Nak, pulang !

Di luar anak anak bermain; hujan hujanan, becek becekan.
Terlihat begitu riang, ia tampik segala gigil yang menghardik.
Di dalam rumah, ada yang gelisah, tangan gemetar, pena tak lagi seirama, menuliskan sajak sajak yang terlahir dari rasa yang patah dan rindu yang kembali membucah. Nak, pulanglah, kita nikmati cinta yang hilang bersama air mata yang berlinang.

Puisi rindu

Saat ia mulai datang, aku hanya bisa terdiam, menikmati setiap rintiknya, hempasnya juga aroma yang ia tinggalkan setelahnya. Ku nikmatinya bersamaan segelas kopi, beberapa carik kertas, bolpoin lalu, ku tulis kan beberapa anak kata yang resah akan sebuah pertemuan; kerinduan.