Juli abadi

Happy milad. Bung! Hujan bulan Juli tetaplah abadi:— dengan rinai yang tak bertepi. Dari Sapardi hingga Otto yang ku dengar baru baru ini. Juli adalah air mata. Tangis, bahagia hingga duka. Hujan bulan Juli tetaplah abadi!

Diskusi

Di sebuah pagi di meja makan: seprincuk nasi dengan toping tempe oreg, segelas air putih, sedang berdiskusi antara pergi atau menetap dihati. Padahal, beribu ribu luka kian hari kian menebal:—Ketokan pada piring, gigitan mulut pada bibir gelas, juga rasa yang tak pernah berbalas, Fikiran yang bebal, atau hati yang memang kebal?  Toh, kesepian itu pasti dan air mata adalah teman menikmat mata hari menjelingkat tirai pagi, menuju hari yang kian hari kian makin membabi buta:— cacat hukum, perampasan, penindasan dan juga pemerasaan. Hidup adalah persiapan menuju keabadian.

Catatan Pandemi

Bisnis baru:— Rapid test namanya.
Bagaimana Rapid test ini tidak saya katakan bisnis, karena di dalamnya terdapat manifest politik. Apa manifest politik tersebut? Ditengah ditengah kondisi masyarakat yang (maaf) sedang terjepit akibat covid-19 ini. Pemerintah hadir dengan wacana “bahwa perantau yang kemarin saat lebaran tiba pulang kampung, jika ingin kembali lagi ke Jakarta (baik untuk bekerja atau pun untuk kuliah) diharuskan membawa surat keterangan bebas covid-19”. Yang mana biayanya berkisar antara 300.000-500.000 per kepala. Mungkin ini salah satu win solusi yang ditawarkan pemerintah dalam memutus mata rantai penyebaran covid-19. Tapi ada satu masalah yang mungkin saya pribadi dan masyarakat pada umumnya keberatan. Karena apa? Sudah jelas karena masalah biaya Rapid tersebut. Mengingat tidak semuanya orang mampu mengeluarkan dengan budget segitu yang saya pribadi katakan cukup besar untuk masyarakat menengah kebawah. Saya kira, mungkin sudah seharusnya, pemerintah menggartiskan Rapid tersebut. Mengingat kontribusi warga kepada negara (dibaca: membayar pajak dll) dan sudah seharusnya pula negara (dalam hal ini pemerintah) memberikan timbal balik, dengan cara menanggung kebutuhan warga selama pandemi, termasuk menggratiskan Rapid tersebut. Mengingat kita sebagai warga mempunyai hak dan pemerintah sebagai pejabat negara juga mempunyai hak. Inikah yang dinamakan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” sesuai yang termaktub dalam Panca sila? Jelas tidak sama sekali. Ini seperti, sudah jatuh lalu tertimpa tangga.

Catatan pandemi:— sudah jatuh lalu tertimpa tangga.

Tour

Bagai pion diantara bidak catur;— diatur kesana, diatur kesini. Diatur-atur!
Dibentur, diatur:—
Diatur, dibentur
Diatur atur bagai pion catur.
Dompet makmur, buah diatur-atur!